Kekuasaan Dinasti Bani Abbasiyah

Kekuasaan Dinasti Bani Abbasiyah - Keruntuhan Dinasti Bani Umayyah pada tahun 750 M/132 H, adalah tonggak awal berdirinya kekuasaan Dinasti Bani Abbasiyah. Pendiri Dinasti Abbasiyah sekaligus yang menjadi Khalifah pertama adalah Abdullah Ash- Saffah bin Muhammad bin Ali Bin Abdulah bin Abbas bin Abdul Muthalib. Dinamakan Dinasti Bani Abbasiyah karena para pendiri dan khalifah dinasti ini adalah keturunan Al-Abbas ibn Abdul Muthalib, paman Nabi Muhammad saw. Masa kekuasaan Dinasti Bani Abbasiyah berlangsung dalam rentang waktu yang panjang, dari tahun 132 H /750 M) s/d 656 H /1258). 

Dari 37 khalifah Dinasti Bani Abbasiyah,  di antaranya Abu Ja’far Al-Mansur, Harun Ar-Rasyid dan Al-Makmun merupakan khalifah-khalifah besar yang membawa Bani Abbasiyah ke puncak kejayaannya.
 

Al-Mansur adalah khalifah  kedua,  merupakan khalifah yang menetapkan dasar-dasar pemerintahan Bani Abbasiyah. Masa pemerintahan Al-Mansur merupakan masa awal perkembangan ilmu pengetahuan yang merupakan cikal bakal perkembangan kejayaan Abbasyiah  di  masa pemerintahan setelahnya. Kota  Baghdad yang dibangunya menjadi ibu kota Dinasti Abbasiyah. Selain  menjadi pusat perdagangan,  juga kebudayaan dan ilmu pengetahuan.  Baghdad menjadi kota terpenting di dunia dan menjadi salah satu  pusat peradaban dunia.

Pada masa Khalifah Harun Ar-Rasyid dan Khalifah Al-Makmun, kebudayaan Islam mencapai peradaban emas.  Terjadi adaptasi dan percampuran kebudayaan India dan Yunani sekaligus memberi sumbangan yang berarti bagi perkembangan kebudayaan Islam. Kota-kota Jundisapur, Harran, dan Iskandariyah  adalah pusat-pusat peradaban Yunani sebelum Islam.  Setelah Islam datang tradisi keilmuwan Yunani terjaga bahkan mengalami perkembangan yang semakin pesat. 

Kemajuan ilmu pengetahuan diawali dengan penerjemahan naskah-naskah asing terutama yang berbahasa Yunani kedalam bahasa Arab, pendirian pusat pengembangan ilmu dan perpustakaan Bait al-Hikmah, dan terbentuknya mazhab-mazhab ilmu pengetahuan dan keagamaan sebagai buah dari kebebasan berpikir.

Bait al-Hikmah  menjelma sebagai pusat kegiatan intelektual yang tidak tertandingi dimana penelitian ilmu-ilmu sosial maupun sains, meliputi metematika, astronomi, kedokteran, kimia, zoologi, geografi dan lain-lain dilakukan. Melalui lembaga ini pula berbagai buku penting (ummahat al-kutub) warisan peradaban pra-Islam (Persia, India dan Yunani) diterjemahkan ke dalam bahasa Arab, seperti buku-buku Pythagoras, Plato, Aristoteles, Hippocrates, Euclid, Plotinus, Galen, Sushruta, Charaka, Aryabhata maupun Brahmagupta. Tidak heran  Philip K. Hitti, ahli sejarah Arab  menyatakan bahwa Bait al-Hikmah merupakan lembaga keilmuan paling penting yang pernah dibangun peradaban manusia setelah Perpustakaan Alexandria yang didirikan sekitar paruh pertama abad ketiga sebelum Masehi. Dengan gerakan penerjemahan ini Baghdad menjadi sebuah kota yang mengoleksi berbagai karya keilmuan yang sangat agung.

Dengan dukungan para khalifah yang memiliki kecintaan  dan perhatian besar bagi pengembangan  ilmu pengetahuan dan peradaban, melahirkan banyak  ilmuan dan para ulama cemerlang yang karya-karyanya abadi sepanjang sejarah sekaligus  membuktikan bahwa peradaban dan kebudayaan  Islam memberi sumbangan besar bagi peradaban dunia.   Diantara  para ilmuwan, antara lain, Jabir bin Hayyan, Al-Khawarizmi, Ibnu Sina, dan, Ibnu Miskawaih. Sedangkan para ulama yang pandangan-pandangan keagamaannya menjadi rujukan umat muslimin di seluruh dunia antara lain ulama kutubussittah, empat imam Madzhab dan mufassirin sekaligus sejarawan seperti At-Tabari dan Ibnu Katsir.

Dinasti Bani Abbasiyah yang berkuasa lebih dari lima abad, kurang lebih 508 tahun  sejak 132-656 H/750-1258 telah banyak memberikan sumbangan  besar bagi pengembangan peradaban dan kebudayaan Islam.  Kegiatan  keilmuan  yang  kreatif, dinamis,  dan kritis serta keberadaan para ilmuwan dan ulama yang melahirkan karya-karya monumental ditambah dukungan penuh dari kebijakan-kebijakan khalifah menjadi kunci bagi keberhasilan pengembangan keilmuan sekaligus tercapainya peradaban dan kebudayaan yang gemilang.

Diantara kemajuan-kemajuan- tersebut meliputi berbagai bidang, meliputi hampir seluruh aspek kehidupan  mulai dari kemajuan di bidang politik dan pemerintahan, kemajuan di bidang sosial budaya, kemajuan ekonomi dan pertanian, kemajuan pengetahun dan teknologi dan kemajuan ilmu-ilmu keagamaan. Kemajuan-kemajuan tersebut  melahirkan berbagai bentuk-bentuk  wujud kebudayaan yang kemudian menjadi  bukti  pencapaian  kemajuan peradaban dan kebudayaan Islam. Kebesaran dan keindahan wujud  kebudayaan tersebut masih bisa dilihat dan dinikmati sepanjang sejarah bahkan sampai hari  ini.

Diantaranya  seni bangunan dan arsitektur, baik untuk bangunan  istana, masjid, maupun bangunan kota.  Istana Qashrul Dzahabi, Qashrul Khuldi, masjid agung Samara, masji Ibn Thulun dan  pembangunan kota Baghdad dan kota Samara. Keindahan kebudayaan lainnya  tercermin  pada bidang sastra, bahasa dan seni musik. Sastrawan dan budayawan terkenal Abu Nawas, Abu Athahiyah, Al-Mutanabby, Abdullah bin Muqaffa dan lain-lain. Karya dan buah pikiran mereka masih dapat dibaca hingga kini, seperti  kitab Kalilah wa Dimna. Sementara  dalam bidang musik yang sampai kini karyanya juga masih dipakai adalah Yunus bin Sulaiman, Khalil bin Ahmad,  Al-Farabi dan lain-lain.

Disamping Dinasti Abbasiyah, dalam sejarah kebudayaan Islam, yang memberikan sumbangan berharga bagi perkembangan dan pencapaian kegemilangan kebudayaan dan peradaban Islam adalah Dinasti Ayyubiah. Dinasti Ayyubiyah didirikan oleh Shalahuddin Yusuf Al-Ayyubi . Selama lebih kurang 75 tahun dinasti Al-Ayyubi yah berkuasa, terdapat 9 orang penguasa. Dan diantara yang termasyhur adalah  sang pendiri, yakni Shalahuddin Yusuf Al-Ayyubi  (1171-1193 M), Malik Al-Adil Saifuddin (1200-1218 M) dan Malik Al-Kamil Muhammad (1218-1238 M).

Selama masa kepemimpinan  Shalahuddin Al-Ayyubi , Dinasti Al-Ayyubi yah mengalami kemajuan, baik dari segi perluasan wilayah, kestabilan pemerintahan, ekonomi, maupun pendidikan. Shalahuddin juga memberikan perhatian serius bagi kebutuhan masyarakat, baik muslim maupun non muslim. Sikap toleransi dikembangkan, sehingga masyarakat non muslim memperoleh hak-hak yang sama dengan masyarakat muslim. Shalahuddin Yusuf Al-Ayyubi  juga membangun salah satu benteng pertahanan yang  kuat, yaitu benteng Qal’atul Jabal, dibangun di Kairo pada tahun 1183 M, yang hingga kini masih bisa dilihat kemegahannya.

Salahuddin Yusuf Al-Ayyubi  tidak hanya dikenal sebagai seorang panglima perang yang gagah berani dan disegani, tetapi juga seorang yang sangat memperhatikan kemajuan pendidikan. Pada masanya, perkembangan ilmu pengetahuan sangat pesat, ditandai dengan kota Damaskus menjadi salah satu kota pengetahuan yang tercatat sepanjang sejarah. Jika Nizam al-Mulk termasyhur dengan lembaga pendidikan monumentalnya Madrasah Nizhamiyah, maka setelah Madrasah Nizamiah ini, madrasah terbesar dalam sejarah pendidikan Islam adalah yang didirikan oleh Shalahuddin al- Ayyubi, diantaranya  Madrasah Al-Shalahiyah.

Dinasti Ayyubiyah pun mencapai kemajuan yang gemilang di bidang-bidang lainnya. Dalam bidang arsitektur dapat dilihat pada seni Arab klasik pada bangunan-bangunan yang terdapat di Aleppo (Halb) dan Damaskus, juga pada benteng pertahanan yang dikenal dengan  benteng Shalahuddin. 

Dalam bidang perdagangan dan perindustrian, sudah terjalin perdagangan lintas wilayah dan internasional yang berpengaruh di Eropa, termasuk memiliki pabrik-pabrik industri, seperti pabrik karpet, pabrik kain dan pabrik gelas dan juga bangunan irigasi. Di masa Dinasti Ayyubiah, Al-Azhar tidak digunakan sebagai masjid dan pusat kegiatan pendidikan (madrasah), akan tetapi Shalahuddin melakukan pembangunan madrasah dan kulliyat-kuliiyat hampir di seluruh wilayah kekuasaannya, sehingga pengembangan ilmu pengetahuan, baik ilmu-ilmu agama maupun ilmu pengetahuan terus berkembang. 

Ada banyak ilmuwan/ulama termasyhur yang berpengaruh membawa kemajuan kebudayaan/peradaban Dinasti Ayyubiah, sekaligus menjadi bagian dari kemajuan kebudayaan/peradaban Islam, diantaranya adalah Abdul Latief Al Baghdadi, seorang ulama berpengaruh yang menginspirasi ulama-ulama  lainnya.  Dia bukan hanya ahli di bidang ilmu-ilmu keagamaan seperti ilmu mantiq, bayan,  hadist, fiqh,  melainkan juga menguasai ilmu kedokteran, dan ilmu-ilmu lainya, juga sekaligus sebagai tokoh berpengaruh dalam pengembangan dan penyebaran madzhab Sunni di Mesir.

Bahkan al-Azhar, dalam perkembangan selanjutnya, walaupun dibangun oleh kaum Syi’ah, namun kemudian difungsikan menjadi pusat ilmu pengetahuan dan pusat pengajaran madzhab Sunni.

INTINE BELAJAR - Jika ada penulisan surat Al-Qur'an yang salah atau ada kesalahan makna dan kesalahan lainnya, harap untuk segera lapor ke admin untuk tujuan perbaikan melalui email: intinebelajar@gmail.com !!! Terima Kasih

Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+

Related : Kekuasaan Dinasti Bani Abbasiyah

0 komentar:

Post a Comment

Silahkan berkomentar sesuai apa yang telah anda baca dengan syarat.
1. Berkomentarlah dengan Relevan
2. Don't Spam
3. No Porn
4. No Sara
5. Jika MELANGGAR komentar akan dihapus